Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Alat Kesehatan Bandung Menyediakan Informasi Seputar Alat Kesehatan Kota Bandung
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Studi yang dilakukan di St Bonaventure University, New York, Amerika Serikat, ini menunjukkan bahwa tidak perlu makan pizza, pai, dan cake untuk memperbaiki suasana hati. Sebab menggambar makanan selain memperbaiki mood, kegiatan ini juga bisa dilakukan untuk membantu menjaga berat badan tetap stabil, seperti dilansir Daily Mail, Rabu (10/7/2013).
Sebanyak 61 orang siswa menjadi responden dalam studi ini, dengan dua pertiganya berjenis kelamin perempuan. Secara acak semuanya dibagi menjadi 4 kelompok dan diberi pensil berwarna merah, hijau, dan hitam. Kemudian, responden diminta untuk menggambar makanan yang diletakkan di depan mereka.
Kelompok pertama diminta untuk menggambar cupcake tinggi-lemak dan tinggi-gula; kelompok kedua diminta untuk menggambar pizza; kelompok ketiga diminta untuk menggambar stroberi; dan kelompok keempat diminta untuk menggambar paprika.
Saat melakukan proses menggambar, seluruh siswa dalam kondisi belum makan. Selain tingkat kelaparannya, sebelum dan sesudah 5 menit menggambar mereka juga diukur mood dan tingkat kebahagiaannya. Metode ini digunakan oleh psikolog untuk menilai perubahan mood.
Hasilnya, tak satu pun dari semua kelompok merasa lebih lapar setelah menggambar. Namun hasil dalam perubahan mood memberi hasil yang cukup signifikan.
Menggambar pizza meningkatkan mood mereka menjadi lebih gembira sebanyak 28 persen; menggambar cupcake meningkat 27 persen; sementara menggambar stroberi meningkat 22 persen; dan menggambar paprika meningkat 1 persen saja.
Berdasarkan hasil ini, para peneliti mencatat bahwa karena semua responden diberi pensil dengan warna yang sama, maka perubahan mood ini kemungkinan besar disebabkan oleh perbedaan jenis makanan yang digambar.
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam Journal of Behavioural and Brain Science. Di sini disebutkan bahwa sudah terbukti melihat gambar makanan saja sudah memberi dampak positif pada suasana hati seseorang. Diharapkan dengan hasil studi terbaru ini program penurunan berat badan atau diet hidup sehat bisa semakin mudah dijalankan.
(vit/vit)
"Saat puasa khususnya di bulan Ramadan, tubuh akan menjadi kekurangan tidur dan utang tidur makin banyak. Ini membuat tubuh beradaptasi dengan cara mengantuk lebih sering dan tubuh menjadi lemas. Sangat wajar," tutur dr Andreas Prasadja, RPSGT, yang akrab disapa dr Ade, ahli kesehatan tidur dari RS Mitra Kemayoran, saat dihubungi detikHealth dan ditulis pada Rabu (10/7/2013).
dr Ade juga menambahkan, saat puasa di bulan Ramadan jam tidur pasti akan berkurang karena aktivitas makan sahur setiap malam menjelang pagi. Dengan rutinitas ini, jam tidur otomatis akan berkurang, tidak seperti biasanya.
Saat tidak sedang di dalam bulan Ramadan, jam tidur yang dianjurkan setiap hari adalah sekitar 7-8 jam. Namun, dengan pengurangan ini maka jam tidur dipastikan akan berkurang. Untuk memenuhi pengurangan ini, tubuh akan tetap berusaha memenuhi jam tidur tersebut, sehingga siang hari orang akan mengalami kantuk berlebihan.
Adanya rasa kantuk yang berlebihan akan membuat seseorang justru menjadi kebanyakan tidur, akibatnya tubuhnya menjadi lemas. Sebaiknya tetap lakukan aktivitas di jam yang memang sudah seharusnya, namun berikan waktu lebih kurang sekitar 15 menit di sela istirahat siang untuk beristirahat.
"Misalnya siang hari dia ngantuk terus tidur sampai sore tanpa ada aktivitas lain, maka akan memberi efek yang tak baik juga. Intinya, ini terjadi karena utang tidurnya masih banyak dan masih butuh tidur lagi," ungkap dr Ade.
Tidur saat berpuasa di bulan Ramadan sebenarnya sangat penting, agar metabolisme tetap lancar. Selain itu, tidur cukup akan menjaga nafsu makan tetap wajar dan tidak tidak berlebihan. Menurut dr Ade, kurang tidur akan membuat nafsu makan meningkat dan terus berpengaruh sampai saat buka puasa.
(vit/vit)
"TB sudah ada obatnya, pemerintah sudah memberikan layanan, dokter dan rumah sakit juga ada. Tapi tiap hari 175 orang di Indonesia meninggal karena TB," kata Wakil Menteri Kesehatan Prof Ali Gufron Mukti saat ditemui di "Kick Off" Forum Stop TB Partnership Indonesia, Kamis (30/5/2013).
Banyaknya korban meninggal akibat infeksi TB membuat peringkat Indonesia masih bertahan di posisi 4 dari negara-negara lain di dunia. Di Indonesia sendiri, TB menjadi salah satu penyebab kematian paling banyak bersama dengan penyakit-penyakit lainnya.
"Ini penyebab kematian nomor 2 atau nomor 3 di Indonesia," lanjut Prof Gufron.
Prof Gufron mengakui, pemerintah tidak mungkin berjalan sendirian dalam mewujudkan Indonesia bebas TB. Dibutuhkan kemitraan atau partnership dengan pihak lain termasuk swasta dan masyarakat pada umumnya untuk bersama-sama melawan persebaran TB.
Mengenai resistensi atau kekebalan kuman TB, Prof Gufron mengakui bahwa kasusnya masih banyak dijumpai di Indonesia. Ia mengatakan, solusi untuk mengurangi kasus MDR-TB (Multi Drug Resistance Tuberculosis) adala deteksi dini dan terapi secepatnya.
TB atau dikenal juga dengan singkatan TBC merupakan infeksi paru yang menular melalui droplet atau bercak dahak yang keluar saat batuk, dan tidak menular lewat alat makan. Dengan pengobatan teratur, infeksi ini bisa disembuhkan dan dicegah penularannya.
Namun karena pengobatannya berlangsung dalam jangka panjang, tidak jarang pasien merasa bosan atau putus asa lalu berhenti alias DO (drop out). Kondisi ini memicu resistensi atau kekebalan, sehingga kuman TB menjadi lebih sulit disembuhkan.
(up/mer)
Virus jenis baru dengan nama lengkap novel coronavirus (nCoV) merupakan keluarga coronavirus, yang menyebabkan penyakit mulai dari flu biasa hingga SARS atau Severe Acute Respiratory Syndrome, serta berbagai penyakit pada hewan.
Menurut WHO, virus ini telah menginfeksi 44 orang di seluruh dunia pada pekan lalu dan 23 diantaranya meninggal dunia, yang sebagian besar berasal dari negara-negara Timur Tengah. Yang terbaru, seorang pria 65 tahun di Prancis baru-baru ini meninggal akibat infeksi virus corona setelah sebelumnya bepergian ke Dubai, seperti dilansir CNN.
"Tapi kita tidak perlu resah karena belum ada laporan virus tersebut masuk Indonesia," jelas Dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, Praktisi klinis dari FKUI-RSCM, saat dihubungi detikHealth, Kamis (30/5/2013).
Kementerian Kesehatan beberapa waktu hari lalu juga menyatakan bahwa belum ditemukan kasus virus corona di Indonesia dan Asia. Namun, Indonesia terus memantau perkembangannya dan tetap melakukan upaya pencegahan.
"Sebagai kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya penyakit ini ke Indonesia maka kami telah membuat surat edaran ke Dinas Kesehatan dan KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) seluruh Indonesia," tulis Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Prof Tjandra Yoga Aditama dalam emailnya kepada wartawan beberapa waktu lalu.
Meski demikian, Dr Ari menghimbau agar orang-orang yang akan melakukan perjalanan ke luar negeri agar tetap waspada, terutama untuk tujuan Timur Tengah dan Eropa.
"Untuk yang di Indonesia tidak perlu risau, tapi orang-orang yang melakukan perjalanan harus waspada, terutama yang ke negara-negara terinfeksi seperti Timur Tengah dan Eropa," pesan Dr Ari.
(mer/up)
"Rokok itu secara langsung dapat memicu kanker karena 3 hal. Pertama, karena rokok itu karsinogen, jadi dia dapat memicu DNA dalam sel-sel untuk bermutasi dan menjadi kanker. Kedua, rokok itu toksik, banyak mengandung racun. Ketiga, rokok itu adiktif, jadi orang yang kecanduan sulit berhenti merokok," kata Dr. Sita Andarini, SpP(k), PhD kepada detikHealth, Kamis (30/5/2013).
Dr Sita yang merupakan staf pengajar Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI dan spesialis kanker paru di RSUP Persahabatan ini menjelaskan, ada berbagai jenis racun yang bersembunyi dalam dalam sebatang rokok. Selain terkandung tar dan nikotin, ada lebih dari 4.000 zat kimia dan 60 zat pemicu kanker.
"Pada perokok aktif, kemungkinannya untuk mengidap kanker adalah 13,6 kali lebih besar ketimbang yang non perokok. Sedangkan pada perokok pasif, kemungkinannya untuk berkembang menjadi kanker 4 kali lipat lebih besar ketimbang yang non perokok," terang dr Sita.
Oleh karena itu, merokok jelas merugikan diri sendiri dan orang lain di sekitarnya. Sudah sejak lama pula bahaya merokok ini digaungkan, namun masyarakat masih banyak yang belum menyadari atau menganggap remeh risikonya. Padahal jika dilihat secara statistik, angka kejadian kasus kanker seiring dengan laju pertambahan jumlah perokok.
"Dari data statistik kami melihat, sejak terjadinya kenaikan jumlah perokok di Indonesia, terjadi kenaikan angka kasus kanker. Berbagai penelitian tentang rokok yang dapat memicu kanker juga sudah banyak. Jadi efek langsungnya memang ada," papar dr Sita.
(pah/up)
Wakil Menteri Kesehatan, Prof Ali Gufron Mukti mengatakan sel-sel pernapasan pada orang merokok rentan mengalami gangguan atau kerusakan. Bagi sistem ketahanan tubuh, gangguan dan kerusakan itu membuat seseorang rentan tertular infeksi apapun termasuk TB.
"Kalau berada di orang yang terinfeksi TB, itu lebih mudah kena dibandingkan orang yang tidak merokok," kata Prof Gufron saat ditemui dalam acara "Kick Off" Forum Stop TB Partnership Indonesia di Energy Bulding, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Kamis (30/5/2013).
Prof Gufron mengaku tidak tahu persis berapa persen prevalensi penderita TB yang disebabkan oleh rokok. Namun dikatakan olehnya, berbagai penelitian ilmiah telah banyak mengaitkan risiko penularan TB dengan kebiasaan merokok baik sebagai perokok aktif maupun pasif.
"Ada penelitian memang sudah mengaitkan antara TB dengan rokok," tambahnya.
Mengenai kebijakan tentang kawasan tanpa rokok (KTR), Prof Gufron mengakui belum semua daerah punya regulasi atau peraturan yang tegas soal pembatasan aktivitas merokok. Meski begitu, pihaknya akan terus mendorong para kepala daerah untuk mewujudkan hal itu.
"Kita dorong terus karena asosiasi walikota dan bupati punya deklarasi untuk mendorong tumbuh kembangnya KTR. Kita dorong untuk memiliki regulasi pengendalian tembakau," tutup Prof Gufron.
(up/mer)
"Pada kanker paru, kemungkinan bertahan hidup pasien rata-rata 6 - 9 bulan. Penyebabnya karena kebanyakan pasien datang saat penyakitnya sudah dalam stadium lanjut. Penyebab utamanya adalah rokok," kata Dr. Sita Andarini, SpP(k), PhD, spesialis paru di RSUP Persahabatan kepada detikHealth, Kamis (30/5/2013).
Pada stadium rendah, yaitu stadium I dan II, umumnya kanker paru tidak menimbulkan gejala yang berarti. Dr Sita menguraikan, penyebabnya karena di dalam paru tidak terdapat saraf untuk merasa nyeri, jadi kanker seringkali berkembang tanpa peringatan dini. Berbeda dengan kulit atau beberapa organ lain yang memunculkan rasa nyeri apabila terjadi sesuatu yang tak beres.
"Kalau masih kecil kankernya, sekitar 3 - 5 cm, pasien tidak akan merasa apa-apa. Bahkan terkadang suka tidak ketahuan dengan pemeriksaan. Kalau sudah merasa sesak napas dan batuk-batuk darah, biasanya kanker sudah mulai menyebar ke paru-parunya," jelas dr Sita.
Lebih lanjut lagi, dr Sita yang juga bertugas sebagai staf pengajar di Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI ini menyarankan, sebaiknya orang yang berisiko terkena kanker paru memeriksakan diri setiap setahun sekali. Deteksi dini bisa dilakukan lewat pemeriksaan foto toraks atau rontgen.
Apabila mengalami gejala batuk-batuk parah selama 2 minggu atau lebih, segera periksakan diri, terutama bagi mereka yang berisiko. Adapun yang berisiko terkena kanker paru adalah mereka yang punya kebiasaan merokok, bekerja di tempat yang berisiko terpapar karsinogen, serta berusia 40 tahun ke atas.
"Untuk tindakan preventifnya ya berhenti merokok, hindari polusi, pakai perlindungan saat bekerja di lingkungan yang berisiko, banyak berolahraga dan deteksi dini," imbuh dr Sita.
Pekerjaan yang berisiko terkena kanker paru seperti yang dimaksud dr Sita adalah pekerjaan seperti pembuat kaca karena berisiko menghirup silika, pengolahan aspal, pertambangan, serta pabrik logam. Terkadang, faktor genetik juga ikut memainkan peran.
(pah/up)