Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Alat Kesehatan Bandung Menyediakan Informasi Seputar Alat Kesehatan Kota Bandung
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Hal ini terungkap dari sebuah studi dari Australia yang melibatkan lebih dari 10.000 wanita berusia antara 47-52 tahun. Namun peneliti mengaku tak tahu-menahu mengapa depresi memiliki keterkaitan yang kuat dengan stroke. Hanya saja peneliti menduga bahwa peradangan dan respons imunologi tubuh terhadap depresi bisa saja berdampak terhadap kesehatan pembuluh darah wanita.
Secara spesifik, studi ini menemukan bahwa wanita yang tertekan atau depresi berisiko terserang stroke 2,4 kali lebih tinggi dibandingkan wanita yang tidak depresi. Tapi risiko ini akan berkurang menjadi 1,9 kali lebih tinggi ketika faktor-faktor lain yang dianggap dapat meningkatkan risiko stroke ikut dipertimbangkan.
"Ketika menangani pasien wanita, setiap dokter perlu mengetahui apakah kondisi kesehatan mental pasien buruk atau tidak dan efeknya secara jangka panjang. Padahal panduan terbaru untuk mencegah stroke cenderung mengabaikan potensi depresi terhadap calon pasien stroke," tandas peneliti Dr. Caroline Jackson, seorang pakar epidemiologi dari School of Population Health, University of Queensland, Australia seperti dilansir Telegraph, Senin (20/5/2013).
Dapat dikatakan ini merupakan studi berskala besar pertama yang mengamati kaitan antara depresi dengan penyakit stroke pada wanita paruh baya. Lagipula meski risiko stroke seorang wanita menjadi tinggi gara-gara depresi, nyatanya risiko stroke mutlaknya sebenarnya masih terbilang cukup rendah bagi wanita paruh baya.
Dan benar saja, sekitar 1,5 persen partisipan dalam studi yang telah dipublikasikan dalam Stroke: Journal of the American Heart Association ini dilaporkan mengidap stroke. Bahkan Dr. Jackson mengatakan jika kondisi serupa juga berlaku bagi wanita Eropa dan Amerika.
"Mungkin kita perlu membuat pendekatan yang lebih bertarget untuk mencegah dan mengobati depresi diantara para wanita muda, karena ternyata kondisi ini memberikan dampak yang cukup kuat terkait risiko stroke bagi mereka sekarang ini daripada di masa depan," imbuhnya.
Menanggapi temuan ini, Dr. Clare Walton dari The Stroke Association mengatakan, "Riset sebelumnya telah menunjukkan bahwa depresi dapat meningkatkan risiko stroke dan studi ini jelas memberikan bukti tambahan terkait hal itu. Lagipula penderita depresi memang kurang termotivasi untuk menjaga kesehatan atau rajin minum obat sehingga memberi mereka risiko yang lebih besar. Meski begitu, sangat sulit untuk menentukan apakah yang satu menjadi penyebab langsung dari lainnya atau sebaliknya."
Penelitian tersebut dilakukan oleh ilmuwan di Universitas Gothenburg, Swedia. Hasilnya menegaskan adanya hubungan antara fungsi reproduksi dan umur seseorang. Salah satu faktor yang amat menentukan adalah telomere, yaitu tutup pelindung pada ujung kromosom spesies. Panjang telomere mempengaruhi usia individu.
Telomere akan memendek tiap kali terjadi pembelahan sel dari tahun ke tahun sampai tak lagi bisa melindungi kromosom hingga sel akhirnya mati. Panjang telomere sangat bervariasi antar individu, bahkan pada usia yang sama. Penyebabnya karena panjang telomere diwariskan dari orang tua dan dipengaruhi oleh paparan stres.
"Hal ini penting, paling tidak untuk spesies kita sendiri, karena kita semua harus berurusan dengan stres yang selalu meningkat," kata peneliti, Angela Pauliny seperti dilansir Medical Xpress, Senin (1/4/2013).
Dalam penelitian ini, para peneliti mempelajari angsa teritip, salah satu spesies burung yang berumur paling panjang, yaitu hingga 22 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan spesies burung lainnya, angsa teritip memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menjaga panjang telomerenya.
Alasannya diduga karena spesies berumur panjang lebih banyak berinvestasi dalam mempertahankan fungsi tubuhnya ketimbang bereproduksi. Peneliti menemukan adanya hubungan antara fungsi reproduksi dan penuaan pada hewan. Misalnya gajah yang memiliki umur panjang tapi keturunannya sedikit, sementara tikus hidup untuk waktu yang singkat tapi menghasilkan banyak keturunan.
"Hasil penelitian menunjukkan bahwa telomere terbaik ditemukan pada angsa jantan, sehingga telomere memendek lebih cepat pada angsa betina. Pada unggas, jenis kelamin yang berbeda memiliki kromosom berbeda. Menariknya, hal itu berlawanan pada manusia," kata Pauliny.
(pah/vta)