Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Alat Kesehatan Bandung Menyediakan Informasi Seputar Alat Kesehatan Kota Bandung
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
"Sangat mengenaskan melihat data seperti ini. Generasi muda pun kini sudah mulai terpengaruh dan melakukan kebiasaan merokok," ungkap Dr Ekowati Rahajeng, SKM, M.Kes, Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI
Hal itu disampaikannya dalam acara seminar dan diskusi publik 'Urgensi Pelarangan Iklan Rokok dalam RUU tentang Penyiaran dan Implikasinya Terhadap Kesehatan Masyarakat' yang diadakan di Ruang GBHN Nusantara V, Gedung MPR-DPR, Jl Jend Gatot Subroto, Kamis (30/5/2013).
Menurut data Kemenkes, disampaikan oleh Dr Ekowati bahwa pada tahun 1995 jumlah perokok anak dan remaja berusia 10-14 tahun di Indonesia mencapai 71.126 orang. Angka ini kemudian meningkat 6 kali lipat menjadi 426.214 pada tahun 2007.
Padahal, anak dan remaja yang sudah mulai merokok saat usia dini memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengidap penyakit-penyakit berbahaya dan mematikan.
"Anak wajib dilindungi oleh negara karena terkait dengan hak anak untuk dapat hidup, tumbuh, dan berkembang secara optimal, seperti diatur dalam Undang Undang Dasar 1945 pasal 28B ayat 2," ujar Dr Sumarjati Arjoso, SKM, Ketua Kaukus Kesehatan DPR RI, dalam acara yang sama.
Untuk itu, pemerintah memiliki peran penting untuk turut serta mengendalikan penjualan rokok, termasuk di antaranya mengendalikan iklan rokok. Sebab, 77 persen remaja berpendapat bahwa iklan rokok memberikan pengaruh yang besar untuk mencoba rokok.
Selain itu, Dr Sumarjati juga menyampaikan pentingnya peran keluarga, terutama orang tua. Jika sejak kecil anak melihat salah satu orang tuanya merokok, maka saat dewasa ia cenderung akan merokok juga.
"Pengendalian rokok dalam lingkup remaja juga akan mengurangi risiko penyakit anak yang timbul akibat paparan asap rokok atau perokok pasif," imbuh Dr Ekowati.
(up/mer)
Pria berusia 24 tahun yang tak disebutkan namanya ini awalnya mengalami sakit kepala yang parah selama bertahun-tahun. Belakangan, gejalanya makin memburuk disertai pilek yang tak kunjung sembuh dan penglihatan pada salah satu matanya memburuk.
Tak tahan dengan penyakitnya, dia memutuskan untuk mencari bantuan dokter di tahun 2011 lalu. Ternyata, hasil pemindaian tomografi komputer menemukan di dalam kepala pria tersebut bersarang pensil yang melintang dari sinus ke faring, bahkan telah melukai sebagian rongga matanya.
Terang saja para dokter kaget mendapati hal ini. Ketika ditanya, pria tersebut mengaku tidak tahu menahu bagaimana bisa ada pensil yang bisa masuk ke dalam kepalanya. Namun yang dia ingat, ketika masih kanak-kanak, dia pernah pingsan dan mengalami mimisan yang parah.
Seperti dilansir Counsel and Heal, Kamis (30/5/2013), pria tersebut lalu menjalani operasi di Aachen University Hospital di Jerman untuk mengambil pensil dari dalam kepalanya. Dalam konferensi kedokteran di Essen, Jerman, profesor Frank Hoelzle dari Aachen University mengatakan bahwa kini pria tersebut sudah pulih.
Dalam presentasinya, selain menunjukkan kasus tersebut, Prof Frank juga mengatakan bahwa tidak ada efek samping yang dialami pria Afghanistan tersebut akibat operasi dan pengobatan yang dilakukan oleh timnya.
(pah/up)
Secara spesifik, studi ini menemukan bahwa pria yang paling bugar ketika berusia 50 tahun di tahun 1970-an berpeluang paling kecil untuk terserang kanker paru-paru atau kanker usus 20-25 tahun kemudian.
Bahkan semakin bugar seorang pria yang divonis mengidap kanker paru-paru. kanker usus atau kanker prostat ketika menginjak usia di awal 50-an, maka semakin kecil kemungkinan mereka untuk meninggal karena penyakitnya tersebut.
"Ini adalah kabar gembira bagi orang-orang yang tak hanya ingin menurunkan risiko penyakit jantung tapi juga kankernya. Pasalnya ada dua hal yang tak bisa Anda ubah yaitu gen dan usia Anda. Tapi Anda bisa jadi lebih bugar," tandas Dr. Susan Lakoski, seorang dokter ahli penyakit jantung dari University of Vermont, AS yang memimpin studi ini seperti dilansir NBCNews, Selasa (21/5/2013).
Temuan ini didasarkan pada pengamatan terhadap data rekam medis lebih dari 17.000 pasien Cooper Institute, Dallas yang didirikan oleh penemu istilah 'aerobik', Dr. Kenneth Cooper. Awalnya seluruh partisipan menjalani tes kebugaran pada kunjungan pertama mereka ke institut tersebut, kemudian institut ini mencatat rekam medis setiap partisipan.
Tingkat kebugaran partisipan diukur dengan MET atau metabolic equivalent of task. "Satu MET itu sama dengan duduk di sofa," terang Lakoski.
Saat diminta menjalani tes treadmill dimana partisipan diminta berjalan cepat di sebuah tanjakan, rata-rata pria paruh baya dapat mencapai 9 MET, sedangkan para atlet dapat mencapai lebih dari 15 MET dan atlet elit 20 MET.
Tapi dalam studi ini, partisipan yang paling tak bugar mampu tetap berada di treadmill dengan kecepatan penuh kurang dari 13,5 menit jika usianya 40-49 tahun; kurang dari 11 menit jika usianya 50-59 tahun dan kurang dari 7,5 menit jika usianya lebih dari 60 tahun.
Lalu 20-25 tahun kemudian, 2.332 partisipan dilaporkan didiagnosis dengan kanker prostat, 276 terkena kanker usus, sedangkan 277 partisipan divonis kanker paru-paru. 347 partisipan lainnya diketahui meninggal dunia akibat kanker-kanker tersebut, disamping 159 partisipan yang diketahui meninggal karena penyakit jantung.
Dari situ peneliti menyimpulkan jika partisipan yang paling fit berpeluang 68 persen lebih kecil untuk terserang kanker paru-paru dan berisiko 38 persen lebih kecil untuk mengidap kanker usus dalam kurun waktu 20 tahun mendatang. Kalaupun partisipan mengidap kanker, mereka yang paling bugar dikatakan secara signifikan berpeluang lebih kecil untuk meninggal dunia akibat ketiga jenis kanker tersebut.
Dengan kata lain, Lakoski menyatakan bahwa untuk setiap penambahan tingkat kebugaran pada pria maka risikonya untuk meninggal dunia akibat kanker berkurang hingga 14 persen dan dari penyakit jantung sebesar 23 persen. Tapi obesitas tidak berpengaruh sama sekali terhadap hal ini.
Namun Lakoski dan American Society of Clinical Oncology (ASCO) sepakat jika temuan ini bukan berarti menunjukkan bahwa pria yang paling bugar pasti lebih kuat dan lebih mampu bertahan dari kanker yang diidapnya. Sebab hormon-hormon seperti prostaglandin dan insulin tampaknya juga memainkan peranan penting, disamping sistem kekebalan dan sebuah proses yang disebut dengan oksidasi yang dapat merusak sel-sel tubuh berikut DNA-nya.
(vit/vit)