Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Alat Kesehatan Bandung Menyediakan Informasi Seputar Alat Kesehatan Kota Bandung
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Karen Wilkinson (44), Carmelina Sirianni (63) dan Gurpal Sandhu (64) sama-sama menerima donor organ dari seorang pria bernama Jovo Vranjesevic. Namun ketiganya meninggal dunia dengan jarak masing-masing enam hari dan hanya sebulan pasca transplantasi.
Vranjesevic sendiri meninggal dunia akibat stroke 12 hari setelah kembali ke Melbourne, Australia. Sebelumnya pria berusia 57 tahun itu sempat tinggal di rumah saudaranya di Serbia selama tiga bulan pada tahun 2006. Usut punya usut, ternyata ketika tinggal di Serbia, pria ini terserang lymphocytic choriomeningitis, sebuah infeksi akibat virus yang disebarkan oleh tikus rumahan kendati ia tidak meninggal karenanya.
Salah satu perwakilan dari tim koroner, Audrey Jamieson mengungkapkan ketiga wanita ini juga mengalami komplikasi yang serupa dengan Vranjesevic beberapa hari pasca prosedur transplantasi yang mereka jalani pada tahun 2007 dan kesemuanya terbukti meninggal dunia akibat virus tersebut.
Dari pemeriksaan intensif barulah diketahui jika keluarga Vranjesevic tidak dimintai keterangan oleh tim dokter terkait isu kesehatan yang (mungkin) dimiliki oleh pria ini sebelum memutuskan untuk mendonasikan organ-organnya.
Keterkaitan antara empat kasus kematian itu pun terungkap setelah dilakukan autopsi atas jenazah Carmelina Sirianni. "Penemuan virus LMCV ini terjadi pada bulan yang sama setelah kematian ketiga resipien," kata Jamieson seperti dilansir Telegraph, Kamis (9/5/2013).
"Hingga ditemukannya virus itu, saya sepakat jika strain virus ini tak pernah ditemukan pada manusia, dengan demikian tak dapat diidentifikasi ketika dilakukan pengambilan organ hingga transplantasi oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya. Virus LMCV ini dapat dikatakan jenis arenavirus (virus yang biasanya menginfeksi tikus) baru dan belum pernah terlihat sebelumnya," tambahnya.
Dari kasus ini Jamieson mengatakan kematian ketiganya sangatlah tragis namun tak dapat diramalkan. Itulah mengapa menurut Jamieson, prosedur screening sebelum menjalankan transplantasi organ dianggap sangat perlu. Jamieson juga meminta ditingkatkannya komunikasi antara para dokter, staf rumah sakit dan keluarga pasien.
"Tapi bukan berarti saya bermaksud mencegah orang-orang untuk mendonorkan organnya mengingat angka donor organ di Australia terbilang rendah dibanding negara-negara lainnya," tandas Jamieson.
Pasangan Wilkinson, Rae Moran mengaku ia menerima hasil temuan tersebut dan mengatakan kecelakaan yang terjadi saat transplantasi ini memang 'tak dapat diramalkan'.
"Saya kira risiko terulangnya kejadian seperti ini sangatlah kecil dan sebaliknya program transplantasi ini sendiri benar-benar bermanfaat bagi orang yang membutuhkannya. Saya masih harus berterima kasih karena saya tahu keluarga pendonor tentu juga menghadapi keputusan yang sulit di waktu yang sama ketika ayah dan suami mereka meninggal dunia," pungkas Moran.
Tim peneliti yang diketuai oleh Profesor Maria Kozhevnikov dari Department of Psychology, National University of Singapore (NUS) Faculty of Arts and Social Sciences ini menemukan bahwa suhu inti tubuh dapat ditingkatkan dengan menggunakan teknik meditasi tertentu yang disebut dengan g-tummo. Bahkan teknik ini dikatakan dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan penyakit atau imunodefisiensi.
G-tummo ini bukan sembarang teknik meditasi. Menurut peneliti, metode ini merupakan salah satu praktik meditasi yang paling sakral di Tibet dan hanya dipraktikkan di beberapa biara di daerah-daerah terpencil di Tibet bagian timur.
Peneliti pun berkesempatan mengumpulkan data untuk studi ini ketika mengikuti sebuah upacara ritual unik di Tibet di mana para biarawati memperlihatkan kemampuannya untuk meningkatkan suhu inti tubuhnya dan mengeringkan jubah basah yang dipakainya meski berada di bawah suhu pegunungan Himalaya yang sangat dingin (minus 25 derajat Celcius) saat bermeditasi.
Dengan menggunakan perekaman electroencephalography (EEG) dan pengukuran suhu, tim peneliti menemukan peningkatan suhu inti tubuh pada para biarawati mencapai 38,3 derajat Celcius.
Untuk memastikan temuan tersebut, peneliti menggelar studi kedua dengan melibatkan sejumlah partisipan asal Barat yang diajari teknik pernafasan ala meditasi g-tummo ini. Hasilnya pun sama, hampir seluruh partisipan mengaku mampu meningkatkan suhu inti tubuhnya, bahkan tanpa batas.
Dari situ peneliti menyimpulkan adanya dua aspek penting dalam meditasi g-tummo yang mengakibatkan peningkatan suhu tubuh yaitu metode bejana nafas atau 'vase breath' dan visualisasi konsentratif. 'Vase breath' adalah teknik pernafasan spesifik yang menyebabkan terjadinya thermogenesis atau proses produksi panas dari dalam tubuh.
Teknik lainnya, visualisasi konsentratif memfokuskan adanya pencitraan mental berupa api di sepanjang sumsum tulang belakang untuk mencegah hilangnya panas. Kedua teknik tersebut berkolaborasi untuk meningkatkan suhu tubuh hingga mencapai zona panas yang biasa dirasakan orang saat demam sedang.
"'Bejana nafas' sendiri merupakan teknik yang aman untuk mengatur suhu inti tubuh agar mencapai kisaran normal. Beberapa partisipan yang saya ajari teknik ini pun dapat meningkatkan suhu tubuh mereka tanpa batas, bahkan para partisipan dilaporkan merasa lebih berenergi dan bisa fokus," terang Prof. Kozhevnikov seperti dilansir medindia, Senin (15/4/2013).
"Dengan studi lanjutan, para pegiat meditasi lainnya mungkin dapat menggunakan metode 'bejana nafas' ini untuk meningkatkan kondisi kesehatan serta performa kognitif mereka," tutupnya.
Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal PLOS ONE.