Supply Alkes, Supplier Alkes Terlengkap dengan harga bersaing

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.

Supply Alkes, Supplier Alkes Terlengkap dengan harga bersaing

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.

Supply Alkes, Supplier Alkes Terlengkap dengan harga bersaing

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.

Supply Alkes, Supplier Alkes Terlengkap dengan harga bersaing

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.

Supply Alkes, Supplier Alkes Terlengkap dengan harga bersaing

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.

Penyedia Alat Kesehatan Terlengkap

Kami penyedia jasa supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, medical, mechanical, elektrical, environmental engineering terlengkap dan terpercaya. Kami melayani penjualan retail dan pemesanan khusus.

Untuk informasi lanjut, hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.

Showing posts with label Badan. Show all posts
Showing posts with label Badan. Show all posts

Sunday, July 21, 2013

Puasa Tapi Badan Semakin Melar? Mungkin Ini Sebabnya

Jakarta, Saat puasa Ramadan, seseorang hanya dibolehkan makan sejak maghrib hingga waktu imsak menjelang. Tidak ada aktivitas makan dan minum di siang hari seperti biasanya. Tapi mengapa terkadang badan semakin melar meski sedang berpuasa?

Ahli gizi dr Fiastuti Witjaksono, MS, SpGK menyebut berat badan akan semakin bertambah saat mengasup banyak kalori tanpa diimbangi kegiatan yang bisa membakar kalori. Karena itu saat berbuka sebaiknya jangan mengonsumsi takjil berlebihan.

"Seperti makan kolak, kemudian dilanjut dengan air kelapa, lalu teh manis. Karena dapat menghasilkan kalori yang berlebih yang dapat menyebabkan kita justru bertambah gemuk ketika puasa," terang dr Fiastuti pada acara 'Puasa Sehat dan Nikmat Bersama Buavita Frutarian' di Masjid Istiqlal Taman Wijaya Kusuma, Jakarta Pusat, dan ditulis pada Rabu (17/7/2013).

dr Fiastuti menganjurkan agar saat berbuka puasa minum segelas jus buah. Karena jus buah tidak memiliki banyak serat dan mampu menggantikan gula dalam tubuh yang sempat turun selama puasa.

Sedangkan saat sahur sebaiknya tidak mengonsumsi makanan yang manis dan makan berlebihan. Alih-alih 'menabung' makanan agar tidak cepat lapar, makanan manis dan berlebihan bisa menyebabkan gula cepat naik dan cepat turun.

"Akibatnya belum apa-apa sudah lemas, lapar, haus dan sebagainya," ujar dr Fiastuti.

"Pada waktu sahur sebaiknya juga konsumsi makanan dengan kandungan karbohidrat kompleks agar kita dapat kenyang lebih lama," imbuhnya.

dr Fiastuti juga menjelaskan mengapa ada keluhan lemas di sore hari pada beberapa orang yang berpuasa. Menurutnya, cadangan energi dalam tubuh pada dasarnya hanya bertahan 10 jam. Jadi hal yang wajar kalau seseorang yang berpuasa merasa lemas mulai pukul 16.00.

"Tapi kalau sebelum 10 jam tapi sudah lemas. Mungkin ada yang salah ketika kita sahur," ucapnya.

(vit/vit)



Sumber Detik



Alat Kesehatan Bandung

Saturday, July 13, 2013

Lindungi Anak dan Perempuan, Kowani Pasang Badan Melawan Rokok

Jakarta, Salah satu kelompok paling rentan terhadap bahaya asap rokok adalah perempuan dan anak-anak. Prihatin dengan hal itu, Kongres Wanita Indonesia (Kowani) siap pasang badan untuk selalu berjuang mengkampanyekan bahaya rokok.

"Perempuan nggak boleh diam, karena kita yang akan jadi korban. Kita yang akan melahirkan generasi yang juga akan jadi korban," kata Dr Dewi Motik, MSi, Ketua Kowani di sela-sela acara capacity building pengendalian tembakau di Kantor Kowani, Jl Imam Bonjol No 58, Jakarta Pusat, Rabu (10/7/2013).

Dewi menilai pengaruh industri rokok sangat besar dalam melahirkan generasi baru perokok-perokok di kalangan usia muda. Melalui iklan rokok, industri tersebut sangat mudah mengajak orang untuk mulai merokok ataupun kembali merokok bagi yang sudah pernah berhenti sebelumnya.

Oleh karenanya, Dewi juga menyayangkan lemahnya regulasi yang kurang tegas mengatur larangan iklan rokok. Lewat beragam bentuk sosialisasi bahaya rokok yang dilakukan Kowani lewat program kesehatan ibu dan anak, Dewi berharap perempuan dan anak-anak akan lebih terlindungi dari bahaya rokok.

Soal lemahnya regulasi, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Dr Sumarjati Arjoso juga mengeluhkan kecenderungan sebagian orang Indonesia yang memang susah diatur. Ketika sudah ada peraturan sekalipun, pelanggaran selalu saja terjadi.

"Kalau ditegur, 'lha undang-undang kan ada untuk dilanggar'," sindir Sumarjati yang juga hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut selaku Ketua Kaukus Kesehatan DPR RI.

(up/vit)



Sumber Detik



Alat Kesehatan Bandung

Friday, May 17, 2013

Kelancaran Persalinan Dipengaruhi Tinggi Badan dan Pinggul Ibu?

DokterSehat.com – Tinggi badan dan ukuran pinggul kerap dikaitkan dengan kelancaran proses persalinan. Sering terdengar anggapan bahwa wanita pendek dan berpinggul sempit akan mengalami proses persalinan yang sulit. Benarkah demikian?


Pada dasarnya proses persalinan didukung oleh 3 faktor, yakni tenaga dari ibu (power), jalan lahir (passage), dan bayi (passanger). Power merupakan kekuatan, regularitas, efektivitas dari kontraksi rahim, dan tenaga mengedan ibu. Passage adalah ukuran dan bentuk tulang panggul serta ada tidaknya sesuatu yang menghalangi jalan lahir, termasuk jaringan  seperti otot dan kulit. Sementara passanger adalah ukuran, letak, presentasi, dan posisi bayi yang akan melewati jalan lahir. Secara sederhana bisa terjadi kondisi-kondisi seperti berikut ini:


1. Ibu yang kapasitas panggulnya normal, berat bayinya tidak besar, namun bila kontraksi dan tenaga mengedannya kurang kuat maka bisa menyebabkan persalinan tidak berlangsung lancar.


2.  Ibu yang panggulnya normal, tenaga mengedannya baik, dan kontraksinya adekuat, namun berat badan bayi melebihi 4000 gram maka kemungkinan persalinannya juga tidak berlangsung lancar.


3. Ibu dengan kontraksi dan tenaganya yang adekuat, berat badan bayi hanya 2700 gram, memiliki postur tubuh normal, namun pernah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan panggulnya menjadi tidak normal kemungkinan tidak bisa melakukan persalinan normal.


Pada ibu yang memiliki postur tubuh kecil dan kapasitas panggul yang kecil memang membutuhkan perhatian lebih berkaitan dengan kelancaran proses persalinan. Bahkan, ukuran sepatu juga menjadi pertimbangan.


Penelitian tahun 1980an melaporkan bahwa ibu yang memiliki tinggi badan kurang dari 152 cm dan ukuran sepatu kurang dari 5,5 maka dipastikan tidak bisa melahirkan secara normal. Sayangnya, hasil penelitian ini tidak cukup membuktikan kebenarannya, dilaporkan 80% wanita yang memiliki tinggi badan kurang dari 160 cm bisa melalui proses bersalian secara normal. Karena itu, tinggi badan lebih dipertimbangkan ketimbang ukuran sepatu.


Sebenarnya pengukuran kapasitas panggul ibu bisa dilakukan dengan pemeriksaan radiologis di luar masa kehamilan. Sementara pada masa kehamilan, pengukuran panggul dilakukan setelah usia kehamilan mendekati aterm, sebab pada saat itu otot-otot dan jaringan ikat panggul relatif melunak sehingga tidak senyeri pada usia kehamilan lebih muda.


Bayi yang memiliki berat lebih dari 4000 g diduga menyebabkan kesulitan dalam proses persalinan normal. Tapi, kini yang menjadi perhatian justru diameter kepala dan lingkar kepala bayi. Kerap terjadi kasus bayi yang memiliki berat di bawah 4000 g tapi tidak bisa lahir secara normal. Dari kasus tersebut disimpulkan bahwa meski berat bayi kurang dari 4000 g tapi diameter dan lingkar kepalanya besar maka bisa menyulitkan untuk masuk ke pinggul ibu. Akibatnya, bayi tidak bisa dilahirkan secara normal.




Sumber Dokter Sehat




Alat Kesehatan Bandung

Saturday, March 23, 2013

Tinggi Badan Anak Pengaruhi Kecerdasannya



Doktersehat.com – Bagi beberapa orangtua kondisi tubuh anak yang pendek atau stunting tidaklah menjadi masalah yang serius. Padahal, anak yang bertubuh pendek bisa mengindikasikan bahwa anak tersebut mengalami kekurangan gizi. Bahkan hasil penelitian menunjukkan tingkat kecerdasan anak stunting lebih rendah dibanding kecerdasan anak yang memiliki tinggi badan normal.


Penelitian tahun 1991 menjelaskan bahwa rata-rata anak normal memiliki skor kecerdasan sekitar 105, sementara anak stunting hanya memiliki skor sekitar 90. Menurut guru besar departemen gizi masyarakat Institut Pertanian Bogor, Hardinsyah, peningkatan kecerdasan anak stunting dapat dilakukan dengan pemberian susu dan menstimulasi anak. Ada banyak cara untuk menstimulasi anak, antara lain dengan rajin diajak bicara atau diajak bermain. Makin banyak orang yang menstimulasi maka anak akan makin cerdas.


Dari hasil penelitian diketahui kedua kombinasi tersebut mampu meningkatkan kecerdasan rata-rata anak stunting hingga  mencapai skor 100. Pemberian stimulasi saja dapat meningkatkan kecerdasan hingga 97 dan pemberian susu saja tanpa adanya stimulasi hanya meningkatkan kecerdasan anak mencapai 95.


Selain itu, normalnya anak berusia 5 tahun memiliki tinggi badan 110 cm. Pada tahun 2010 di Indonesia tercatat rata-rata tinggi badan anak laki-laki usia 5 tahun lebih rendah 6,7 cm dari tinggi seharusnya. Sementara anak perempuan kurang 7,3 cm dari tinggi normalnya.


Kondisi anak stunting bisa berakibat fatal bagi produktivitasnya saat dewasa nanti. Untuk menekan laju pertumbuhan anak stunting diperlukan pemeliharaan gizi yang tepat pada saat hamil hingga anak berusia dua tahun.


Selain pemenuhan gizi pangan, ada beberapa hal lain yang tak kalah penting yakni pemberian ASI eksklusif, makanan bergizi pendamping ASI, serta imunisasi.





Sumber Dokter Sehat




Alat Kesehatan Bandung

Tuesday, March 19, 2013

Tinggi Badan Anak Pengaruhi Kecerdasannya



Doktersehat.com – Bagi beberapa orangtua kondisi tubuh anak yang pendek atau stunting tidaklah menjadi masalah yang serius. Padahal, anak yang bertubuh pendek bisa mengindikasikan bahwa anak tersebut mengalami kekurangan gizi. Bahkan hasil penelitian menunjukkan tingkat kecerdasan anak stunting lebih rendah dibanding kecerdasan anak yang memiliki tinggi badan normal.

Penelitian tahun 1991 menjelaskan bahwa rata-rata anak normal memiliki skor kecerdasan sekitar 105, sementara anak stunting hanya memiliki skor sekitar 90. Menurut guru besar departemen gizi masyarakat Institut Pertanian Bogor, Hardinsyah, peningkatan kecerdasan anak stunting dapat dilakukan dengan pemberian susu dan menstimulasi anak. Ada banyak cara untuk menstimulasi anak, antara lain dengan rajin diajak bicara atau diajak bermain. Makin banyak orang yang menstimulasi maka anak akan makin cerdas.

Dari hasil penelitian diketahui kedua kombinasi tersebut mampu meningkatkan kecerdasan rata-rata anak stunting hingga  mencapai skor 100. Pemberian stimulasi saja dapat meningkatkan kecerdasan hingga 97 dan pemberian susu saja tanpa adanya stimulasi hanya meningkatkan kecerdasan anak mencapai 95.

Selain itu, normalnya anak berusia 5 tahun memiliki tinggi badan 110 cm. Pada tahun 2010 di Indonesia tercatat rata-rata tinggi badan anak laki-laki usia 5 tahun lebih rendah 6,7 cm dari tinggi seharusnya. Sementara anak perempuan kurang 7,3 cm dari tinggi normalnya.

Kondisi anak stunting bisa berakibat fatal bagi produktivitasnya saat dewasa nanti. Untuk menekan laju pertumbuhan anak stunting diperlukan pemeliharaan gizi yang tepat pada saat hamil hingga anak berusia dua tahun.

Selain pemenuhan gizi pangan, ada beberapa hal lain yang tak kalah penting yakni pemberian ASI eksklusif, makanan bergizi pendamping ASI, serta imunisasi.


Sumber Dokter Sehat



Alat Kesehatan Bandung