Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Alat Kesehatan Bandung Menyediakan Informasi Seputar Alat Kesehatan Kota Bandung
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
"Pada kanker paru, kemungkinan bertahan hidup pasien rata-rata 6 - 9 bulan. Penyebabnya karena kebanyakan pasien datang saat penyakitnya sudah dalam stadium lanjut. Penyebab utamanya adalah rokok," kata Dr. Sita Andarini, SpP(k), PhD, spesialis paru di RSUP Persahabatan kepada detikHealth, Kamis (30/5/2013).
Pada stadium rendah, yaitu stadium I dan II, umumnya kanker paru tidak menimbulkan gejala yang berarti. Dr Sita menguraikan, penyebabnya karena di dalam paru tidak terdapat saraf untuk merasa nyeri, jadi kanker seringkali berkembang tanpa peringatan dini. Berbeda dengan kulit atau beberapa organ lain yang memunculkan rasa nyeri apabila terjadi sesuatu yang tak beres.
"Kalau masih kecil kankernya, sekitar 3 - 5 cm, pasien tidak akan merasa apa-apa. Bahkan terkadang suka tidak ketahuan dengan pemeriksaan. Kalau sudah merasa sesak napas dan batuk-batuk darah, biasanya kanker sudah mulai menyebar ke paru-parunya," jelas dr Sita.
Lebih lanjut lagi, dr Sita yang juga bertugas sebagai staf pengajar di Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI ini menyarankan, sebaiknya orang yang berisiko terkena kanker paru memeriksakan diri setiap setahun sekali. Deteksi dini bisa dilakukan lewat pemeriksaan foto toraks atau rontgen.
Apabila mengalami gejala batuk-batuk parah selama 2 minggu atau lebih, segera periksakan diri, terutama bagi mereka yang berisiko. Adapun yang berisiko terkena kanker paru adalah mereka yang punya kebiasaan merokok, bekerja di tempat yang berisiko terpapar karsinogen, serta berusia 40 tahun ke atas.
"Untuk tindakan preventifnya ya berhenti merokok, hindari polusi, pakai perlindungan saat bekerja di lingkungan yang berisiko, banyak berolahraga dan deteksi dini," imbuh dr Sita.
Pekerjaan yang berisiko terkena kanker paru seperti yang dimaksud dr Sita adalah pekerjaan seperti pembuat kaca karena berisiko menghirup silika, pengolahan aspal, pertambangan, serta pabrik logam. Terkadang, faktor genetik juga ikut memainkan peran.
(pah/up)
"Di Indonesia, di RSUP Persahabatan, memang angka kanker paru meningkat pesat dalam waktu 10 tahun ini. Jika dulu angka TB (tuberkolusis) banyak, sekarang mulai bersaing dengan kanker paru," kata Dr. Sita Andarini, SpP(k), PhD, spesialis paru di RSUP Persahabatan kepada detikHealth, Kamis (30/5/2013).
Indonesia memang tercatat sebagai negara penyumbang kasus TBC nomor 4 di dunia setelah India, China dan Afrika Selatan. Diperkirakan ada 430 ribu kasus TBC baru dan 169 orang di antaranya meninggal setiap hari.
Dr Sita yang juga bertugas sebagai staf pengajar di Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI ini menjelaskan, pada pasien kanker paru, angka kematiannya terhitung tinggi. Penyebabnya karena pasien baru datang ketika kanker sudah memasuki stadium lanjut, yaitu stadium III-B hingga IV.
"Pada pasien kanker paru dengan stadium III-B sampai stadium IV, itu sudah stadium lanjut, umumnya pasien hanya bisa bertahan 3 - 6 bulan. Kalau stadium I dan II masih bisa diatasi," terang dr Sita.
Peningkatan pasien kanker paru ini tak lepas dari peningkatan jumlah perokok. Data WHO tahun 2008 menyebutkan bahwa jumlah perokok aktif di Indonesia menduduki peringkat 3 terbanyak di dunia setelah China dan India. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa sebanyak 67,4 persen laki-laki dan 4,5 persen perempuan Indonesia adalah perokok aktif.
Jika dihitung, diperkirakan ada sekitar 61,4 juta perokok aktif di Indonesia. Di satu sisi, sekitar 97 juta warga Indonesia yang tak merokok terpaksa ikut berisiko terkena penyakit karena menghirup asap rokok. Pada anak-anak, yang terpapar asap rokok jumlahnya sekitar 43 juta. Sebanyak 11,4 juta di antaranya masih berusia 0 - 4 tahun.
Yang menyedihkan, peningkatan jumlah perokok justru banyak dijumpai pada remaja dan anak-anak. Di antara anak-anak berusia 10 - 14 tahun, terdapat peningkatan jumlah perokok hingga 6 kali lipat dari tahun 1995 hingga 2007. Jika yang merokok di tahun 1995 ada 71.126 anak, maka di tahun 2007 jumlahnya melonjak jadi 426.214 anak.
Akibatnya, diperkirakan ada lebih dari 200.000 orang yang meninggal setiap tahun akibat penyakit yang berhubungan dengan rokok, tak terkecuali kanker paru. Penyakit ini tak hanya mengganggu kesehatan, namun juga finansial. Di tahun 2010, beban ekonomi makro akibat penggunaan tembakau mencapai Rp 245,41 Trilyun.
"Untuk kanker sendiri, angka pasien dengan kanker paru dalam 10 tahun ini meningkat 5 kali lipat," pungkas dr Sita.
(pah/up)
Dokter tersebut bernama J. Peter Zegarra. Dewan medis di AS mengaku sudah menegur dokter nakal ini karena menyarankan pasien untuk melakukan oral seks kepada suaminya guna mengatasi refluks asam. Pasiennya yang merupakan seorang wanita ini awalnya datang karena takut asam refleksnya akan mengganggu pemeriksaan endoskopi yang hendak dijalani.
Zegarra yang berpraktik di Sacramento, California sebagai dokter ahli bedah kolorektal ini lalu menyuruh pasien tersebut untuk melakukan oral seks kepada suaminya 2 kali seminggu. Menurut Zegarra, tindakan tersebut dapat menenangkan gangguan refluks asam pasien yang tak disebutkan namanya ini
Seperti dilansir Huffington Post, Selasa (22/5/2013), peristiwa ini sebenarnya sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, namun baru terungkap akhir-akhir ini. Tips sehat ala Zegarra tersebut akhirnya terdengar ke telinga dewan medis di AS. Para anggota dewan mengatakan bahwa saran tersebut tidak pantas, bahkan jika dimaksudkan sebagai lelucon.
Refluks asam adalah mengalirnya asam lambung naik ke kerongkongan sehingga menyebabkan ketidaknyamanan pada tenggorokan dan kadang-kadang menyebabkan gangguan suara. Untuk mengurangi refluks asam, dokter biasanya menyarankan agar makan perlahan-lahan sampai tercerna dengan baik dan menghindari makan tepat sebelum tidur.
Ternyata, tak hanya Zegarra saja yang nakal memberikan tips seks untuk mengatasi penyakit pasiennya. Pada bulan September 2012 lalu, seorang dokter di Illinois dituntut setelah diduga memberikan obat kepada 30 pasiennya dengan imbalan mau diajak melakukan kegiatan seksual.
Kegiatan seksual yang dilakukan dengan pasien berkisar dari oral seks, baik saat berkonsultasi maupun di luar jam kerja, bahkan hingga melakukan hubungan intim di ruang pemeriksaan. Tentu saja polah busuk dokter bernama David Gierlus tersebut membawanya jadi pesakitan di persidangan.
Tak hanya itu, pada bulan April 2012 lalu, seorang dokter umum di Inggris menghadapi tuduhan dari 3 pasien wanitanya Dia diadukan karena si dokter menganiaya dan melakukan hubungan seks dengan pasien beberapa kali di meja operasi. Selama tahun 2003 - 2005, dokter cabul tersebut memakai alasan bahwa 'terapi'-nya dapat membantu menyelamatkan pernikahan pasien.
(pah/vit)
Wanita tersebut diketahui pertama kali memasuki rumah sakit pada tanggal 13 April lalu. Menurut polisi, tersangka memasuki kamar pasien yang tengah tertidur lalu merusak mesin pensuplai obat pereda nyerinya. Ketika pasien terbangun dan bertanya apa yang sedang dia lakukan, wanita tersebut mengatakan akan memanggil suster.
"Ketika perawat masuk, dia menemukan bahwa selang dari mesin pasien telah dipotong dan obat nyerinya menetes di lantai," kata polisi seperti dilansir ABC News, Jumat (26/4/2013).
Tak lama setelah insiden pertama terjadi, polisi mengatakan datang laporan kedua menjelaskan bahwa wanita yang sama terlihat mengintip kamar pasien di lantai lain. Wanita tersebut lalu memasuki kamar pasien yang tengah dikunjungi keluarganya.
Ketika alarm rumah sakit berbunyi, wanita tersebut melarikan diri. Seorang anggota keluarga pasien melihat ada darah di lantai dan selang berisi obat pereda nyeri ibunya telah terpotong. Sayangnya, pihak rumah sakit baru melapor ke polisi 4 hari setelah kejadian tersebut.
"Tidak jelas mengapa rumah sakit menunggu untuk memberitahu pihak berwenang. Mungkin di situ ada video rekamannya. Detektif kami tengah bekerjasama dengan pihak rumah sakit," kata salah seorang anggota kepolisian, Mark Jamieson.
Menurut pihak keamanan rumah sakit, wanita tersebut mengenakan baju biru menyerupai perawat dan fasih memahami istilah kedokteran. Rekaman video memperlihatkan perawat palsu tersebut berjalan keluar dari rumah sakit sambil membawa tas berisi 2 tabung setinggi 60 cm. Dicurigai, tabung tersebut berisi sejumlah obat nyeri yang dicuri dari pasien.
Hingga kini, wanita tersebut masih buron. Tersangka wanita ini memiliki ciri-ciri berkulit putih dengan usia sekitar pertengahan 30-an hingga awal 40-an tahun. Rambutnya pirang diikat ekor kuda. Siapapun yang memiliki informasi diminta menghubungi Departemen Kepolisian Seattle.
(pah/vit)
Secara khusus peneliti menganalisis kandungan napas pasien yang disebut dengan volatile organic compounds (VOC). Dengan menganalisis VOC tersebut, peneliti mengaku sejauh ini metode yang mereka temuan ini mampu mendiagnosis risiko gagal jantung pada pasien yang baru saja diopname dengan akurasi mencapai 100 persen.
"Setiap individu memiliki 'jejak' napas yang berbeda antara satu orang dengan yang lain, tergantung pada apa yang terjadi pada tubuhnya. 'Jejak' itu dapat memberitahukan kepada kita segala aspek tentang pasien bersangkutan, termasuk apa saja yang memapari mereka dan penyakit apa yang mereka idap," terang ketua tim peneliti Dr. Raed Dweik dari department of pulmonary, allergy and critical care medicine, Respiratory Institute, Cleveland Clinic, AS.
"Itulah mengapa deteksi penyakit dengan analisis napas begitu menjanjikan karena metode ini bersifat non-intrusif sehingga tidak menimbulkan risiko apapun. Anda pun bisa melakukannya dimana saja, entah itu di klinik maupun rumah sakit," tambahnya.
Metode ini juga diklaim dapat memudahkan setiap orang untuk mengetahui risiko gagal jantungnya. Pasalnya, menurut US National Heart, Lung and Blood Institute, selama ini diagnosis gagal jantung harus mempertimbangkan sejumlah faktor seperti riwayat kesehatan, uji fisik agar tim dokter dapat mendengarkan detak jantung dan paru-paru pasien, termasuk pengecekan kaki dan perut pasien untuk memastikan apakah ada gejala penumpukan cairan pada organ-organ itu atau tidak.
Selain itu, tes darah dan penggunaan elektrokardiogram juga dapat memastikan risiko gagal jantung pada pasien.
Dalam studi ini, peneliti memastikan efektif tidaknya metode non-invasif untuk mengidentifikasi gagal jantung ini dengan cara mengumpulkan sampel napas 41 pasien yang telah diopname di Cleveland Clinic.
25 pasien diantaranya harus diopname di klinik karena didiagnosis dengan 'acute decompensated heart failure' sedangkan 16 pasien lainnya tidak menunjukkan gejala gagal jantung sama sekali namun pernah mengalami gangguan kardiovaskular lainnya.
Sampel napas tunggal partisipan diambil dari setiap pasien dalam kurun 24 jam setelah masuk klinik, begitu juga ke-36 pasien tambahan yang telah 'divonis' dengan acute decompensated heart failure sebagai perbandingan.
Dua jam setelah sampel napas dikumpulkan, keseluruhan sampel itu dianalisis menggunakan teknologi "mass spectrometry" untuk memindai kandungan molekuler dan kimiawi dari sampel-sampel tersebut. Sejumlah senyawa yang ditemukan dari sampel telah dipastikan berpotensi menjadi indikator gagal jantung.
Hasilnya menakjubkan, metode tes napas ini dapat mengidentifikasi seluruh pasien gagal jantung dengan tepat, bahkan cara ini benar-benar mampu membedakan antara kejadian gagal jantung dengan gangguan kardiovaskular lainnya.
"Teorinya, tes ini terbilang murah. Tapi tentu saja kami masih berada dalam proses sangat awal untuk menggali potensinya. Kami masih memerlukan banyak perbaikan agar metode ini dapat digunakan secara luas," tutupnya Dweik seperti dilansir dari health24, Jumat (29/3/2013).