Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
Alat Kesehatan Bandung Menyediakan Informasi Seputar Alat Kesehatan Kota Bandung
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.
Untuk informasi lanjut,
hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.
DokterSehat.com – Sindroma Reiter merupakan peradangan sendi dan tendon yang menyertainya. Kondisi ini kerap disertai dengan peradangan pada konjungtiva mata dan selaput lendir seperti di mulut, penis, vagina, dan saluran kemih, serta muncul ruam-ruam yang khas.
Sindroma Reiter disebut artritis reaktif sebab peradangan sendi timbul sebagai reaksi terhadap infeksi yang berasal dari bagian tubuh lainnya selain sendi. Ada 2 jenis Sindroma Reiter, yaitu:
1. Terjadi setelah adanya infeksi saluran pencernaan seperti salmonelosis.
2. Terjadi dengan penyakit menular seksual seperti infeksi klamidia. Pria muda lebih sering mengalami kondisi ini.
Penyebab
Belum diketahui pasti penyebab munculnya Sindroma Reiter. Faktor genetik diduga memiliki pengaruh terhadap terjadinya penyakit yang kerap dialami pria yang berusia di bawah 40 tahun.
Gejala
Penyakit ini biasanya akan menunjukkan gejalanya dalam kurun waktu 7-14 hari setelah terinfeksi. Gejala awal yang sering ditunjukkan berupa peradangan uretra yakni saluran yang membawa urin dari kandung kemih keluar tubuh. Pada pria, peradangan ini mengakibatkan munculnya rasa nyeri dan penis mengeluarkan nanah. Kelenjar prostat bisa meradang dan nyeri.
Pada wanita gejala saluran kemih-kelamin biasanya lebih ringan, yakni berupa keputihan ringan atau nyeri saat berkemih. Selaput yang melapisi bola mata dan kelopak mata akan meradang dan menjadi merah serta membuat munculnya rasa gatal, seperti terbakar, atau mengeluarkan air mata yang berlebihan.
Peradangan dan nyeri sendi bisa ringan atau berat. Beberapa sendi akan terkena, terutama jari kaki, lutut, dan tumit. Pada kasus yang berat, peradangan dan nyeri bisa sampai ke tulang belakang.
Terkadang muncul ruam di kulit terutama di telapak tangan dan telapak kaki. Gejala lain yang ditunjukkan adalah adanya endapan kuning di bawah kuku jari tangan dan kaki.
Pada sebagian besar penderita, gejala awalnya akan menghilang dalam 3-4 bulan. Pada separuh penderita, artritis dan gejala lainnya muncul lagi setelah beberapa tahun. Bila gejalanya menetap atau sering kambuh, maka bisa terjadi kelainan bentuk pada sendi dan tulang belakang.
Pengobatan
Artritis biasanya diobati dengan obat anti-peradangan non-steroid. Bisa juga diberikan obat imunosupresan, seperti metotreksat atau sulfasalazin. Selain itu bisa juga disuntikkan langsung kortikosteroid ke dalam sendi yang meradang. Pengobatan luka di kulit dan konjungtivitis tidak perlu dilakukan, namun peradangan mata yang parah mungkin memerlukan salep atau tetes mata kortikosteroid.
Penyakit OA lebih rentan menyerang wanita ketimbang pria sebab gangguan ini erat kaitannya dengan masalah hormonal. Wanita memiliki hormon estrogen dan progesteron yang berfungsi menjaga kekenyalan, otot, dan ligamen. Pada wanita yang sudah mengalami menopause biasanya terjadi ketidakseimbangan hormon, pengroposan tulang, dan ligamen kendur.
Wanita lebih cepat 2-3 persen mengalami pengeroposan tulang ketimbang pria. Kondisi inilah yang membuat tulang bekerja lebih kuat sehingga mengakibatkan perubahan biomekanik dalam lutut. Normalnya, beban kerja diterima oleh tulang dan otot, namun pada penderita osteoartritis sebagian besar beban kerjanya diterima oleh tulang.
Osteoartritis dapat menyerang beberapa bagian tubuh, seperti lutut, sendi-sendi sekitar pinggul, tangan, pangkal paha, atau tulang-tulang di jari. Gangguan osteoartritis berpotensi menyerang wanita yang sering bergerak, seperti ibu rumah tangga. Pergerakan berulang-ulang yang hanya bertumpu pada satu titik bisa membahayakan tulang.
Gangguan osteoartritis memiliki empat tahap gejala. Pertama, penderita akan merasa sakit setelah menggerakkan sendi. Kemudian sendi akan terasa ngili saat diam dan bertambah sakit saat digerakkan kembali. Selanjutnya, akan terdengar suara gemeretak saat menghentakkan sendi yang sakit. Pada gejala terakhir sendi akan terbatas gerakkannya akibat munculnya rasa sakit.
Sebagai upaya pencegahan sebaiknya kontrol berat badan seideal mungkin. Makin berat beban tubuh maka makin besar risiko mengalami osteoartritis.
Obat yang diberikan pada penderita osteoartritis sebenarnya hanya berfungsi untuk meredakan nyeri.
Bagi seseorang yang berusi 25 hingga 35 tahun diperbolehkan untuk mencoba berbagai jenis olahraga untuk merangsang timbunan kalsium pada tulang. Tapi, bila sudah berada diusia 35 tahun ke atas maka sebaiknya pilih olahraga seperti berenang atau bersepeda secara rutin.
Kemunduran rawan sendi juga bisa disebabkan adanya radikal bebas. Radikal bebas dalam tubuh bisa dinetralkan dengan mengonsumsi makanan yang mengandung banyak vitamin A, C, E, kolagen dan selinium. Semua nutrisi penting itu dapat Anda dapatkan dalam apel, pisang, susu, pepaya, nanas, dan jeruk.
Sebaiknya segeralah lakukan foto rontgen bila sudah terasa nyeri sendi. Bila sudah diketahui hasilnya, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter untuk melakukan fisioterapi.