Supply Alkes, Supplier Alkes Terlengkap dengan harga bersaing

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.

Supply Alkes, Supplier Alkes Terlengkap dengan harga bersaing

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.

Supply Alkes, Supplier Alkes Terlengkap dengan harga bersaing

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.

Supply Alkes, Supplier Alkes Terlengkap dengan harga bersaing

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.

Supply Alkes, Supplier Alkes Terlengkap dengan harga bersaing

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.

Penyedia Alat Kesehatan Terlengkap

Kami penyedia jasa supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, medical, mechanical, elektrical, environmental engineering terlengkap dan terpercaya. Kami melayani penjualan retail dan pemesanan khusus.

Untuk informasi lanjut, hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.

Showing posts with label Depresi. Show all posts
Showing posts with label Depresi. Show all posts

Saturday, May 25, 2013

Sedikit-sedikit Depresi Bikin Wanita Makin Rentan Kena Stroke

Jakarta, Depresi mudah sekali menghinggapi wanita mengingat sifat alaminya yang cenderung overthinking dan sensitif. Padahal jika hal ini dibiarkan, dikhawatirkan wanita akan gampang terserang berbagai penyakit, misalnya stroke.

Hal ini terungkap dari sebuah studi dari Australia yang melibatkan lebih dari 10.000 wanita berusia antara 47-52 tahun. Namun peneliti mengaku tak tahu-menahu mengapa depresi memiliki keterkaitan yang kuat dengan stroke. Hanya saja peneliti menduga bahwa peradangan dan respons imunologi tubuh terhadap depresi bisa saja berdampak terhadap kesehatan pembuluh darah wanita.

Secara spesifik, studi ini menemukan bahwa wanita yang tertekan atau depresi berisiko terserang stroke 2,4 kali lebih tinggi dibandingkan wanita yang tidak depresi. Tapi risiko ini akan berkurang menjadi 1,9 kali lebih tinggi ketika faktor-faktor lain yang dianggap dapat meningkatkan risiko stroke ikut dipertimbangkan.

"Ketika menangani pasien wanita, setiap dokter perlu mengetahui apakah kondisi kesehatan mental pasien buruk atau tidak dan efeknya secara jangka panjang. Padahal panduan terbaru untuk mencegah stroke cenderung mengabaikan potensi depresi terhadap calon pasien stroke," tandas peneliti Dr. Caroline Jackson, seorang pakar epidemiologi dari School of Population Health, University of Queensland, Australia seperti dilansir Telegraph, Senin (20/5/2013).

Dapat dikatakan ini merupakan studi berskala besar pertama yang mengamati kaitan antara depresi dengan penyakit stroke pada wanita paruh baya. Lagipula meski risiko stroke seorang wanita menjadi tinggi gara-gara depresi, nyatanya risiko stroke mutlaknya sebenarnya masih terbilang cukup rendah bagi wanita paruh baya.

Dan benar saja, sekitar 1,5 persen partisipan dalam studi yang telah dipublikasikan dalam Stroke: Journal of the American Heart Association ini dilaporkan mengidap stroke. Bahkan Dr. Jackson mengatakan jika kondisi serupa juga berlaku bagi wanita Eropa dan Amerika.

"Mungkin kita perlu membuat pendekatan yang lebih bertarget untuk mencegah dan mengobati depresi diantara para wanita muda, karena ternyata kondisi ini memberikan dampak yang cukup kuat terkait risiko stroke bagi mereka sekarang ini daripada di masa depan," imbuhnya.

Menanggapi temuan ini, Dr. Clare Walton dari The Stroke Association mengatakan, "Riset sebelumnya telah menunjukkan bahwa depresi dapat meningkatkan risiko stroke dan studi ini jelas memberikan bukti tambahan terkait hal itu. Lagipula penderita depresi memang kurang termotivasi untuk menjaga kesehatan atau rajin minum obat sehingga memberi mereka risiko yang lebih besar. Meski begitu, sangat sulit untuk menentukan apakah yang satu menjadi penyebab langsung dari lainnya atau sebaliknya."


(vit/vit)



Sumber Detik



Alat Kesehatan Bandung

Friday, March 29, 2013

Penyandang Epilepsi Lebih Berisiko Mengalami Depresi Hingga Bunuh Diri

Jakarta, Penyebab utama epilepsi belum diketahui dengan pasti hingga saat ini. Epilepsi bisa terjadi kepada siapa saja dan tidak memandang usia. Sayangnya gangguan ini masih mendapat stigma buruk di mata masyarakat. Akibatnya, banyak ditemui kasus penyandang epilepsi yang lantas mengalami depresi.

"Depresi pada epilepsi tercatat cukup tinggi, yaitu sekitar 30 - 50 persen. Jika epilepsi terkontrol dengan baik, maka peluang hidup tanpa serangan akan semakin meningkat sehingga risiko depresi semakin kecil," kata dr Suryo Dharmono, SpKJ(K), spesialis psikiatri dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Dalam diskusi media bertema 'World Purple Day 2013: Mari Peduli Epilepsi' yang diselenggarakan Abott di Hotel Gran Melia, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Kamis (20/3/2013), dr Suryo menjelaskan bahwa tinginya risiko depresi ini disebabkan karena stigma yang masih melekat mengenai epilepsi, baik stigma dari diri sendiri maupun dari lingkungan.

Dr Suryo menceritakan bahwa beberapa pasien yang datang kepadanya ada yang baru mengalami epilepsi ketika berusia 20 tahun, bahkan ada yang berusia 65 tahun. Karena muncul tanpa sebab yang jelas dan tiba-tiba, penyakit ini sering membuat pasiennya menjadi depresi, bahkan ada yang berpikir untuk bunuh diri.
"Penyandang epilepsi 5 - 10 kali lipat berpeluang bunuh diri dibanding populasi umum. Pada pasien epilepsi yang menyerang lobus temporalis dan lobus frontalis, bisa berisiko 5 kali lipat dibanding penyandang epilepsi umum," ujar dr Suryo.

Penyakit ini sebenarnya bisa disembuhkan dan pasien tidak harus menjalani pengobatan seumur hidup. Oleh karena itu, dr Suryo menyarankan bahwa penting sekali dilakukan destigmatisasi dan membangun persepsi positif terhadap penyandang epilepsi.

Salah satunya adalah dengan membentuk komunitas kelompok bantu diri penyandang epilepsi. Dalam kelompok ini, penyandang epilepsi bisa secara bebas dan terbuka berbagi pengalaman sehingga dapat meningkatkan motivasi untuk hidup mandiri.


Sumber Detik


Alat Kesehatan Bandung

Tuesday, March 26, 2013

Foto-foto Lama di Facebook Bisa Hapus Depresi Lho

Jakarta, Facebook tak hanya dapat memperluas jejaring sosial seseorang tapi juga membantunya tetap terhubung dengan teman-temannya di manapun mereka berada. Bahkan baru-baru ini sebuah studi menemukan bahwa Facebook juga dapat menyembuhkan depresi jika orang yang mengalaminya kembali membuka-buka akun Facebook-nya untuk bernostalgia.

Sebelumnya para pakar telah mengetahui bahwa terapi kenangan bermanfaat bagi lansia yang mulai kehilangan daya ingat. Namun kini tim peneliti dari University of Portsmouth, Inggris melakukan riset untuk memastikan dugaan mereka bahwa Facebook dapat membantu mengobati gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi.


Dari situ peneliti menemukan 90 persen pengguna Facebook kembali login dan melihat-lihat akunnya agar dapat mengingat-ingat hal-hal bahagia yang terjadi di masa lalunya, terutama foto-foto dan berbagai komentar yang ditulis teman-temannya sebagai sarana untuk 'menenangkan dirinya sendiri'.


Dr. Alice Good yang memimpin studi ini pun mengatakan bahwa timnya menemukan adanya peningkatan 'penenangan diri' ketika melihat para pengguna membuka-buka akun Facebook lamanya, terutama saat mereka rentan mengalami kesedihan atau depresi.


"Hasilnya mengindikasikan kita dapat menggunakan metode ini sebagai bagian dari terapi untuk 'menenangkan diri sendiri' atau menanggulangi bad mood," tutur Good seperti dilansir nydailynews, Rabu (20/3/2013).


"Bahkan kami sangat terkejut dengan temuan ini karena sedikit kontradiktif dengan sejumlah studi lainnya. Meski studi ini kecil, tapi kami percaya diri untuk melanjutkannya dengan studi yang cakupannya lebih luas untuk memastikan apakah hasilnya akan tetap konsisten," lanjutnya.


Menanggapi studi ini, seorang psikolog bernama Dr. Clare Wilson berpendapat, "Facebook diperkenalkan sebagai salah satu sarana komunikasi. Tapi studi ini menunjukkan bahwa kita lebih cenderung menggunakannya agar dapat terhubung dengan masa lalu kita, ketika mungkin di masa kini kita perlu mengembalikan kepercayaan diri kita."


Menurutnya foto-foto yang terpajang di Facebook itu juga merupakan pengingat akan peristiwa-peristiwa positif di masa lalu. "Ketika dirundung mood negatif, sangat mudah bagi kita untuk melupakan seberapa baik kita di masa lampau. Tapi posting yang bersifat positif itu akan mengingatkan Anda tentang hal-hal baik di masa lalu dan mood negatif kita pun akan hilang," tutup Wilson.


Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Lecture Notes in Computer Science: Universal Access in Human-Computer Interaction.


 


Sumber Detik




Alat Kesehatan Bandung