Supply Alkes, Supplier Alkes Terlengkap dengan harga bersaing

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.

Supply Alkes, Supplier Alkes Terlengkap dengan harga bersaing

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.

Supply Alkes, Supplier Alkes Terlengkap dengan harga bersaing

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.

Supply Alkes, Supplier Alkes Terlengkap dengan harga bersaing

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.

Supply Alkes, Supplier Alkes Terlengkap dengan harga bersaing

Kami menyediakan supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, elektrik engineering terlengkap dengan harga sangat bersaing. Hubungi kami email:alkesritel@yahoo.com untuk informasi lanjut.

Penyedia Alat Kesehatan Terlengkap

Kami penyedia jasa supply alat kesehatan, peralatan laboratorium, medical, mechanical, elektrical, environmental engineering terlengkap dan terpercaya. Kami melayani penjualan retail dan pemesanan khusus.

Untuk informasi lanjut, hubungi kami di
no telp -,
email: alkesritel@yahoo.com
website: alkesritel.blogspot.com.

Showing posts with label Rokok. Show all posts
Showing posts with label Rokok. Show all posts

Saturday, July 13, 2013

Lindungi Anak dan Perempuan, Kowani Pasang Badan Melawan Rokok

Jakarta, Salah satu kelompok paling rentan terhadap bahaya asap rokok adalah perempuan dan anak-anak. Prihatin dengan hal itu, Kongres Wanita Indonesia (Kowani) siap pasang badan untuk selalu berjuang mengkampanyekan bahaya rokok.

"Perempuan nggak boleh diam, karena kita yang akan jadi korban. Kita yang akan melahirkan generasi yang juga akan jadi korban," kata Dr Dewi Motik, MSi, Ketua Kowani di sela-sela acara capacity building pengendalian tembakau di Kantor Kowani, Jl Imam Bonjol No 58, Jakarta Pusat, Rabu (10/7/2013).

Dewi menilai pengaruh industri rokok sangat besar dalam melahirkan generasi baru perokok-perokok di kalangan usia muda. Melalui iklan rokok, industri tersebut sangat mudah mengajak orang untuk mulai merokok ataupun kembali merokok bagi yang sudah pernah berhenti sebelumnya.

Oleh karenanya, Dewi juga menyayangkan lemahnya regulasi yang kurang tegas mengatur larangan iklan rokok. Lewat beragam bentuk sosialisasi bahaya rokok yang dilakukan Kowani lewat program kesehatan ibu dan anak, Dewi berharap perempuan dan anak-anak akan lebih terlindungi dari bahaya rokok.

Soal lemahnya regulasi, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Dr Sumarjati Arjoso juga mengeluhkan kecenderungan sebagian orang Indonesia yang memang susah diatur. Ketika sudah ada peraturan sekalipun, pelanggaran selalu saja terjadi.

"Kalau ditegur, 'lha undang-undang kan ada untuk dilanggar'," sindir Sumarjati yang juga hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut selaku Ketua Kaukus Kesehatan DPR RI.

(up/vit)



Sumber Detik



Alat Kesehatan Bandung

Friday, July 12, 2013

Mumpung Puasa, dr Hakim Ingatkan Darah Babi di Filter Rokok

Jakarta, Seperti tahun-tahun sebelumnya, bulan puasa kali ini banyak dijadikan momen untuk berhenti merokok. Untuk menguatkan motivasi tersebut, dr Hakim Sorimuda Pohan kembali mengingatkan adanya kandungan darah babi dalam filter rokok.

"Di bulan puasa ini saya mengingatkan, kalau memang ingin mendapat hadiah takwa, ya jangan masukkan barang haram di antara bibir," kata dr Hakim dari Komnas Pengendalian Tembakau saat ditemui di Kantor Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Jl Imam Bonjol Jakarta Pusat, Rabu (10/7/2013).

Dalam berbagai kesempatan, dr Hakim selalu mengungkit hasil penelitian di luar negeri yang mengungkap adanya kandungan hemoglobin (Hb) babi dalam filter rokok. Hemoglobin merupakan komponen darah yang berfungsi untuk mengikat oksigen (O2).

Dalam filter rokok, penambahan Hb diharapkan bisa mengikat racun CO atau karbon monoksida yang mematikan. Kekuatan Hb dalam mengikat CO menurut dr Hakim memang jauh lebih kuat, kurang lebih 600 kali lebih kuat dibanding ikatan Hb dengan O2.

"Celakanya yang dipakai dalam filter rokok adalah pig hemoglobin (hemoglobin babi)," kata dr Hakim.

Perihal kandungan hemoglobin babi dalam filter rokok sudah kerap diperdebatkan. Pada tahun 2010, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pernah meneliti 10 merek rokok dan hasilnya, seperti dikutip dari majalah detik, tidak ditemukan adanya kandungan darah babi dalam filternya.

Terlepas dari kontroversi tersebut, bulan puasa memang bisa dimanfaatkan sebagai momen yang tepat untuk berhenti merokok. Banyak yang mencoba berhenti selama sebulan, lalu bisa bertahan tidak merokok di bulan-bulan berikutnya atau bahkan berhenti sama sekali.

"Asal ada niat, pasti ada jalan," kata Dr Dewi Motik, MSi, Ketua Kowani saat dimintai komentar soal motivasi beberapa orang untuk berhenti merokok di bulan puasa.

(up/vta)



Sumber Detik



Alat Kesehatan Bandung

Sunday, June 9, 2013

3 Hal yang Membuat Rokok Bisa Bersahabat dengan Kanker

Jakarta, Bermain-main dengan maut, karena pria suka tantangan. Agaknya demikian pesan tersembunyi yang ingin disampaikan iklan rokok. Jelas, ada banyak alasan mengapa rokok bisa membunuh, tapi selalu saja ada alasan untuk membantahnya. Dari segi medis, rokok terbukti memicu kanker.

"Rokok itu secara langsung dapat memicu kanker karena 3 hal. Pertama, karena rokok itu karsinogen, jadi dia dapat memicu DNA dalam sel-sel untuk bermutasi dan menjadi kanker. Kedua, rokok itu toksik, banyak mengandung racun. Ketiga, rokok itu adiktif, jadi orang yang kecanduan sulit berhenti merokok," kata Dr. Sita Andarini, SpP(k), PhD kepada detikHealth, Kamis (30/5/2013).


Dr Sita yang merupakan staf pengajar Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI dan spesialis kanker paru di RSUP Persahabatan ini menjelaskan, ada berbagai jenis racun yang bersembunyi dalam dalam sebatang rokok. Selain terkandung tar dan nikotin, ada lebih dari 4.000 zat kimia dan 60 zat pemicu kanker.


"Pada perokok aktif, kemungkinannya untuk mengidap kanker adalah 13,6 kali lebih besar ketimbang yang non perokok. Sedangkan pada perokok pasif, kemungkinannya untuk berkembang menjadi kanker 4 kali lipat lebih besar ketimbang yang non perokok," terang dr Sita.


Oleh karena itu, merokok jelas merugikan diri sendiri dan orang lain di sekitarnya. Sudah sejak lama pula bahaya merokok ini digaungkan, namun masyarakat masih banyak yang belum menyadari atau menganggap remeh risikonya. Padahal jika dilihat secara statistik, angka kejadian kasus kanker seiring dengan laju pertambahan jumlah perokok.


"Dari data statistik kami melihat, sejak terjadinya kenaikan jumlah perokok di Indonesia, terjadi kenaikan angka kasus kanker. Berbagai penelitian tentang rokok yang dapat memicu kanker juga sudah banyak. Jadi efek langsungnya memang ada," papar dr Sita.


(pah/up)




Sumber Detik




Alat Kesehatan Bandung

Saturday, June 8, 2013

Rokok Membuat Angka Harapan Hidup Pasien Kanker Paru Tak Lama

Jakarta, Tak hanya membuat kecanduan, kandungan zat kimia dalam sebatang rokok bisa berakibat fatal, yaitu memicu kanker. Di kalangan perokok, kanker paru adalah penyakit yang paling mudah ditemui, sekaligus yang paling ganas. Dibanding jenis lainnya, kanker ini terbilang paling berbahaya.

"Pada kanker paru, kemungkinan bertahan hidup pasien rata-rata 6 - 9 bulan. Penyebabnya karena kebanyakan pasien datang saat penyakitnya sudah dalam stadium lanjut. Penyebab utamanya adalah rokok," kata Dr. Sita Andarini, SpP(k), PhD, spesialis paru di RSUP Persahabatan kepada detikHealth, Kamis (30/5/2013).


Pada stadium rendah, yaitu stadium I dan II, umumnya kanker paru tidak menimbulkan gejala yang berarti. Dr Sita menguraikan, penyebabnya karena di dalam paru tidak terdapat saraf untuk merasa nyeri, jadi kanker seringkali berkembang tanpa peringatan dini. Berbeda dengan kulit atau beberapa organ lain yang memunculkan rasa nyeri apabila terjadi sesuatu yang tak beres.


"Kalau masih kecil kankernya, sekitar 3 - 5 cm, pasien tidak akan merasa apa-apa. Bahkan terkadang suka tidak ketahuan dengan pemeriksaan. Kalau sudah merasa sesak napas dan batuk-batuk darah, biasanya kanker sudah mulai menyebar ke paru-parunya," jelas dr Sita.


Lebih lanjut lagi, dr Sita yang juga bertugas sebagai staf pengajar di Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI ini menyarankan, sebaiknya orang yang berisiko terkena kanker paru memeriksakan diri setiap setahun sekali. Deteksi dini bisa dilakukan lewat pemeriksaan foto toraks atau rontgen.


Apabila mengalami gejala batuk-batuk parah selama 2 minggu atau lebih, segera periksakan diri, terutama bagi mereka yang berisiko. Adapun yang berisiko terkena kanker paru adalah mereka yang punya kebiasaan merokok, bekerja di tempat yang berisiko terpapar karsinogen, serta berusia 40 tahun ke atas.


"Untuk tindakan preventifnya ya berhenti merokok, hindari polusi, pakai perlindungan saat bekerja di lingkungan yang berisiko, banyak berolahraga dan deteksi dini," imbuh dr Sita.


Pekerjaan yang berisiko terkena kanker paru seperti yang dimaksud dr Sita adalah pekerjaan seperti pembuat kaca karena berisiko menghirup silika, pengolahan aspal, pertambangan, serta pabrik logam. Terkadang, faktor genetik juga ikut memainkan peran.


(pah/up)





Sumber Detik




Alat Kesehatan Bandung

Thursday, June 6, 2013

Ini Hitungan Kemenkes Soal Cukai Dibandingkan Pengeluaran Negara Akibat Rokok

Jakarta, Industri rokok boleh saja mengklaim kontribusinya membayar cukai untuk negara. Namun kementerian kesehatan punya perhitungan sendiri, yang menunjukkan bahwa cukai tersebut jauh lebih kecil dibanding pengeluaran negara akibat rokok.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehtan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan pendapatan negara dari cukai hanya Rp 55 triliun. Angka ini jauh lebih kecil dibanding pengeluaran makro negara yang tiap tahun mencapai Rp 254,41 triliun.

Bila dirinci, pengeluaran sebesar itu antara lain untuk memenuhi beberapa keperluan sebagai berikut:

1. Pembelian rokok itu sendiri (Rp 138 triliun)
2. Biaya perawatan medis rawat inap dan rawat jalan (Rp 2,11 triliun)
3. Kehilangan produktivitas akibat kematian prematur dan morbiditas maupun disabilitas (Rp 105,3 triliun)

Rokok dikatakan memicu kehilangan produktivitas karena menjadi faktor risiko berbagai penyakit tidak menular yang mematikan. Prof Tjandra Yoga mencontohkan di antara berbagai risiko tersebut adalah penyakit jantung koroner, kanker dan stroke.

"Hal ini menunjukkan bahwa pengeluaran Makro akibat rokok di Indonesia lebih besar dari cukai yang didapat Indonesia," kata Prof Tjandra Yoga dalam Focus Group Discussion (FGD) tentang Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) di Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), seperti ditulis Kamis (30/5/2013).

Sementara dalam emailnya kepada wartawan, Prof Tjandra Yoga juga mengungkapkan bahwa jumlah perokok di Indonesia saat ni menempati peringkat ke-3 terbanyak di dunia. Hanya China dan India yang mengungguli Indonesia dalam hal jumlah perokoknya.

Dilihat dari jumlahnya, diperkirakan ada lebih dari 61,4 juta perokok di Indonesia. Prevalensi berdasarkan jenis kelamin menunjukkan 67,4 peren laki-laki adalah perokok, sedangkan di kalangan perempuan angkanya 4,5 persen.

(up/mer)



Sumber Detik



Alat Kesehatan Bandung

Wednesday, June 5, 2013

Bintang Sepakbola Andik Vermansyah Tak Rela Tubuhnya Dirusak Asap Rokok

Jakarta, Siapa tak kenal Andik Vermansyah, salah satu atlet tim nasional sepak bola Indonesia? Pemain bola yang sempat menjegal David Beckham dan tergabung dalam tim Persebaya Surabaya ini tidak merokok.

Ditemui dalam acara Aqua Danone Nations Cup (DNC) 2013 di Hotel Ritz Carlton Jakarta pada Kamis, (30/5/2013) Andik mengatakan untuk menjaga kebugaran dirinya ia tidak merokok. "Saya tidak suka merokok, kalau merokok bagaimana bisa kuat main bola," kata Andik.

Seperti diketahui saat ini masih saja ada beberapa atlet yang akrab dengan rokok. Menurut data terbaru terdapat 60 juta perokok di Indonesia.

Selanjutnya Andik menuturkan bahwa ia tidak rela jika sampai dirinya merokok. "Kasihan tubuh yang sudah dilatih selama ini kalau saya merokok," imbuh Andik.

Saat ini rokok masih menjadi masalah besar tak hanya bagi perokok aktif tetapi juga perokok pasif baik pria dan wanita. Sekitar 60 persen pria di Indonesia adalah perokok dan seiring dengan itu terjadi juga peningkatan jumlah perokok di kalangan anak dan remaja.

Andik Vermansyah tentu dapat menjadi contoh atlet Indonesia yang menginspirasi untuk menjaga kesehatannya dengan tidak merokok. Yuk, kita contoh Andik dengan menjaga pola hidup sehat dan bebas dari rokok.

(up/up)



Sumber Detik



Alat Kesehatan Bandung

Tuesday, June 4, 2013

Yuk Dipantau! Kominfo Sudah Imbau Hari Ini TV dan Radio Bebas Iklan Rokok

Jakarta, Larangan iklan dan sponsor rokok menjadi tema peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2013 hari ini. Sebagai bentuk dukungan, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengimbau TV dan Radio di Indonesia untuk bebas iklan rokok.

Imbauan yang disampaikan melalui surat No. 338/M.KOMINFO/PI.03.04/05/2013 ini telah disampaikan kepada Lembaga Penyiaran Radio dan Televisi di seluruh Indonesia. Surat tersebut ditembuskan juga ke presiden dan berbagai organisasi penyiaran.

"Dalam rangka memperingati Hari Anti Tembakau Sedunia tersebut, Menteri Kominfo menghimbau kepada lembaga penyiaran radio dan televisi untuk tidak menyiarkan iklan rokok pada tanggal 31 Mei 2013," tulis Kepala Humas Kementerian Kominfo, Gatot S Dewa Broto dalam rilisnya.

Menurut Gatot, sejauh ini tidak ada komplain atau penolakan dari para pengelola media yang masuk ke Kementerian Kominfo. Karena sifatnya cuma imbauan, memang tidak ada kewajiban bagi para pengelola media untuk merespons surat tersebut.

Nemun demikian, Gatot berharap imbauan itu dipatuhi sebagai bentuk dukungan terhadap peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang ditetapkan WHO (Organisas Kesehatan Dunia) sejak 1987. Dengan alasan itu pula, Kominfo juga merilis imbauan tersebut ke publik.

"Dengan dimuat juga di situs kominfo.go.id, harapannya masyarakat ikut memantau. Mana yang mematuhi dan mana yang tidak," kata Gatot saat dihubungi detikHealth, Jumat (31/5/2013).

Peringatan hari tanpa tembakau sedunia tahun ini mengambil tema larangan iklan dan sponsor rokok yang dinilai turut mempengaruhi anak dan remaja untuk mulai merokok. Saat ini, beberapa negara termasuk Indonesia dinilai masih longgar terkait regulasi iklan rokok.

(up/up)



Sumber Detik



Alat Kesehatan Bandung

Monday, June 3, 2013

Kasihan, Tak Ikut Bakar Rokok Tapi Kena Jatah Kanker Paru

Jakarta, Bisakah Anda membayangkan bagaimana rasanya menanggung beban atas suatu hal yang tak pernah dilakukan? Misalnya pada kasus salah tangkap. Tentu menyedihkan sekali. Begitu pula nasib para perokok pasif atau secondhand smoker, ikut menanggung penyakit walau tak ikut menyalakan rokok.

Menurut data Kementerian Kesehatan, diperkirakan ada sekitar 61,4 juta perokok aktif di Indonesia. Sekitar sekitar 97 juta warga Indonesia yang tidak merokok terpaksa berisiko ikut terkena penyakit karena menghirup asap rokok. Pada anak-anak, yang terpapar asap rokok jumlahnya sekitar 43 juta. Sebanyak 11,4 juta di antaranya masih berusia 0 - 4 tahun.


"Pada perokok aktif, kemungkinannya untuk mengidap kanker adalah 13,6 kali lebih besar ketimbang yang non perokok. Sedangkan pada perokok pasif, kemungkinannya untuk berkembang menjadi kanker 4 kali lipat lebih besar ketimbang yang non perokok," kata Dr. Sita Andarini, SpP(k), PhD, spesialis paru di RSUP Persahabatan kepada detikHealth, Kamis (30/5/2013).


Asap rokok yang dibakar dan meracuni sekitar dapat terhirup oleh orang-orang di sekitarnya. Inilah yang membuat perokok pasif pada akhirnya berisiko juga terkena kanker. Dr Sita menjelaskan, ada 2 jenis asap yang dihasilkan saat seseorang membakar rokok, yaitu asap mainstream dan sidestream.


Asap mainstream adalah asap rokok yang dihisap dan dihembuskan kembali oleh perokok. Sedangkan asap sidestream adalah asap hasil pembakaran rokok. Dari segi kandungan senyawa kimia, ternyata di dalam asap sidestream konsentrasi senyawa berbahayanya lebih banyak ketimbang asap mainstream.


"Di dalam asap sidestream, partikel-partikelnya lebih kecil dan halus, sedangkan dalam asap mainstream partikel-partikelnya lebih besar. Nah, pada perokok pasif, kebanyakan yang masuk adalah partikel sidestream yang lebih kecil dan halus. Inilah yang memicu kanker. Makanya pada perokok pasif kanker parunya biasanya di daerah tepi," terang dr Sita.


Dr Sita menambahkan, selain terkandung tar dan nikotin, ada lebih dari 4000 zat kimia dan 60 zat pemicu kanker dalam sebatang rokok. Dengan partikel rokok yang lebih halus dan kecil, tak heran jika perokok pasif ikut berisiko terserang kanker paru.


(pah/up)




Sumber Detik




Alat Kesehatan Bandung

Karena Rokok, Jumlah Pasien Kanker Paru Bersaing dengan TBC

Jakarta, Dulu, penyakit paru-paru yang paling diwaspadai dan membuat nama Indonesia dikenal dunia adalah tuberkulosis (TBC). Namun dengan adanya peningkatan jumlah perokok, kasus TBC dan kanker paru kini saling bersaing untuk merebut perhatian.

"Di Indonesia, di RSUP Persahabatan, memang angka kanker paru meningkat pesat dalam waktu 10 tahun ini. Jika dulu angka TB (tuberkolusis) banyak, sekarang mulai bersaing dengan kanker paru," kata Dr. Sita Andarini, SpP(k), PhD, spesialis paru di RSUP Persahabatan kepada detikHealth, Kamis (30/5/2013).


Indonesia memang tercatat sebagai negara penyumbang kasus TBC nomor 4 di dunia setelah India, China dan Afrika Selatan. Diperkirakan ada 430 ribu kasus TBC baru dan 169 orang di antaranya meninggal setiap hari.


Dr Sita yang juga bertugas sebagai staf pengajar di Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI ini menjelaskan, pada pasien kanker paru, angka kematiannya terhitung tinggi. Penyebabnya karena pasien baru datang ketika kanker sudah memasuki stadium lanjut, yaitu stadium III-B hingga IV.


"Pada pasien kanker paru dengan stadium III-B sampai stadium IV, itu sudah stadium lanjut, umumnya pasien hanya bisa bertahan 3 - 6 bulan. Kalau stadium I dan II masih bisa diatasi," terang dr Sita.


Peningkatan pasien kanker paru ini tak lepas dari peningkatan jumlah perokok. Data WHO tahun 2008 menyebutkan bahwa jumlah perokok aktif di Indonesia menduduki peringkat 3 terbanyak di dunia setelah China dan India. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa sebanyak 67,4 persen laki-laki dan 4,5 persen perempuan Indonesia adalah perokok aktif.


Jika dihitung, diperkirakan ada sekitar 61,4 juta perokok aktif di Indonesia. Di satu sisi, sekitar 97 juta warga Indonesia yang tak merokok terpaksa ikut berisiko terkena penyakit karena menghirup asap rokok. Pada anak-anak, yang terpapar asap rokok jumlahnya sekitar 43 juta. Sebanyak 11,4 juta di antaranya masih berusia 0 - 4 tahun.


Yang menyedihkan, peningkatan jumlah perokok justru banyak dijumpai pada remaja dan anak-anak. Di antara anak-anak berusia 10 - 14 tahun, terdapat peningkatan jumlah perokok hingga 6 kali lipat dari tahun 1995 hingga 2007. Jika yang merokok di tahun 1995 ada 71.126 anak, maka di tahun 2007 jumlahnya melonjak jadi 426.214 anak.


Akibatnya, diperkirakan ada lebih dari 200.000 orang yang meninggal setiap tahun akibat penyakit yang berhubungan dengan rokok, tak terkecuali kanker paru. Penyakit ini tak hanya mengganggu kesehatan, namun juga finansial. Di tahun 2010, beban ekonomi makro akibat penggunaan tembakau mencapai Rp 245,41 Trilyun.


"Untuk kanker sendiri, angka pasien dengan kanker paru dalam 10 tahun ini meningkat 5 kali lipat," pungkas dr Sita.


(pah/up)




Sumber Detik




Alat Kesehatan Bandung

Friday, March 29, 2013

Gara-gara Rokok, Suara Kakek Ini Berubah Seperti Robot

Jakarta, Pita suara merupakan salah satu alat vital didalam tubuh kita. Bisa Anda bayangkan bagaimana jika kita hidup tanpa pita suara? Hal inilah yang diderita pasien kanker laring yang harus diamputasi saluran nafas atasnya. Amputasi ini akan mengakibatkan hilangnya pita suara.

"Ini bukan ISPA atau infeksi saluran pernafasan akut, ini kanker!" Seru dr Hakim Sorimuda Pohan, SpOG pada acara Round Table Discussion bersama dengan tema Menyatukan Suara Dokter dan Korban dalam Perjuangan Pengendalian Rokok di Indonesia, di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Jl Tirtayasa Raya No 6 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan ditulis pada Rabu (20/3/2013).

Dokter kandungan yang aktif sebagai penggiat di organisasi Tobacco Control Support Center (TCSC) menuturkan bahwa korban rokok aktif maupun pasif cepat atau lambat akan terkena kanker.
"Salah satu dampak langsung dari merokok adalah kanker saluran pernafasan atas. Saluran nafas atasnya harus dibuang. Udara akhirnya melewati lambung dan keluar melalui osofagus. Setelah dioperasi mereka dikirim ke jepang untuk diajari agar bisa bicara dengan perut. Setiap rabu di RSCM latihannya, ini adalah upaya agar mereka tidak putus asa," ujar dr Hakim.

Beberapa mantan penderita kanker laring yang hadir dalam acara ini rata-rata berusia 50 tahun dan semuanya laki-laki. Diantara mereka terlihat seperti kakek-kakek sehat pada umumnya, namun ada satu ciri khas mereka yaitu terdapat sebuah alat dilehernya.

Mereka terlihat menggunakan kemeja ditambah baju dalam seperti 'turtle neck' untuk menutupi alat itu. Yang lain hanya menggunakan penutup luar yang memang disediakan dari alat tersebut.
Alat kecil seperti speaker yang dipasang pada leher, tepatnya dibawah dagu pasien, dan ini merupakan alat bantu bicara. Dengan bantuan alat ini penderita dapat berbicara lagi seperti memiliki pita suara, namun suaranya akan terdengar seperti robot dan sering mengeluarkan bunyi hembusan udara.
Acara ini juga dihadiri oleh salah satu breast cancer survivor yang juga terkena kanker akibat rokok. Beliau mengungkapkan telah menjadi korban rokok sejak belia.

"Saya merokok sejak umur 17 sampai 59 tahun, bisa Anda bayangkan? Sampai di tahun 2007 ketika saya menghisap rokok saya merasakan rasa sensual yang luar biasa mengalir lewat urat ke dada sebelah kiri saya. Dalam hati saya berkata 'kena nih!'. Akhirnya saya memutuskan untuk periksa ke dokter dan ternyata benar saya mengidap kanker payudara," jelas Laksmi Notokusumo, penari yang juga sutradara dan penulis puisi di Cancer Information & Support Centre (CISC).

CISC merupakan salah satu lembaga yang berdiri sejak 2003 untuk memberikan dukungan bagi mantan penderita kanker untuk bisa pulih kembali baik secara fisik dan mental. Disinilah ibu 65 tahun ini berkarya.
Nah, sudah jelas rokok bukan lagi hal yang harus dimaklumi, namun perokok juga bukanlah seorang kriminal. Perokok sebenarnya hanyalah korban atau pasien yang harus disembuhkan.


Sumber Detik


Alat Kesehatan Bandung